assalamu’alaikum, wr. wb.
tentang penamaan “omahkampong”. ya … omahkampong, dan bukan omah kampung atau omah kampoeng. nama ini dipakai bukan sekedar bermain “teks” saja, walaupun bisa diartikan - secara lahiriah - sama. memang disengaja tidak memisahkan antara teks” omah dan kampong. kesengajaanya karena alasan memaknainya saja, karena dianggap dan diyakini bahwa omah dan kampong itu satu ikatan dan tak bisa dipisahkan. saling berpengaruh dalam konteks berkehidupan dan bersosialisasi. omah dan kampong tidak sekedar berkadar fisik, namun perlu dimaknai dari sisi eksistensi filosofisnya (omah dan kampong adalah home dan bukan house). dipakainya istilah kampong dan bukan kampung atau kampoeng, di samping sebagai unsur pembeda untuk teks dan bahasanya, juga karena penggunaan kata “kampong” dipahami bisa lebih luas pemaknaannya.”omah” atau rumah, dianggap sebagai tempat yang sentral bagi siklus kehidupan manusia penghuninya. ibaratnya sebuah sarang atau basecamp. selain sentral juga sakral (namun tidak semua penghuninya menganggapnya demikian). sementara “kampong” atau kampung (istilah umumnya) merupakan wilayah kehidupan sosial yang lebih luas (makro) dalam konteks “omah” sebagai wilayah sosial yang mikro. sebagai wilayah mikro, omah menjadi ajang “pencerahan hidup dan berkehidupan” melalui dialog sekaligus silaturahmi antar anggota penghuninya. sedangkan wilayah makro - dengan sendirinya - akan menjadi cerminannya. wilayah mikro dan makro dalam realitasnya saling berinterakasi dan berproses imbal balik, ada sebab akibat. walaupun, dampaknya tidak selalu berbanding lurus. hipotesanya begini : “jika kualitas mikronya baik maka kualitas makronya - INSYA’ ALLAH - juga baik”. ya .. semoga bukan “buruk muka cermin dibelah”.
wassalammu’alaikum wr. wb.