sudah cukup lama istilah “arsitektur” digunakan pula oleh bidang lain di luar bidang ke-arsitektur-an pada umumnya, dan bisa ditemui di banyak tulisan-tulisan tentang IT. namun ternyata perbankan indonesia pun ikut-ikutan menempelkan kata arsitektur ini, seperti yang bisa dilihat pada gambar logo di samping. logo ini bisa terbaca di banyak spanduk yang belakangan ini dipasang oleh setiap bank baik yang negeri maupun swasta, dengan tulisan AYO KE BANK.
sebagaimana pengertian secara umum, istilah “arsitektur” lebih dipahami sebagai suatu karya desain (hasil rancangan) yang terkait dengan persoalan lingkungan binaan (man-made environment) atau orang awam lebih mengartikannya sebagai sosok rumah atau bangunan. lalu .., kenapa perbankan kita juga ikut menggunakannya? begitu pertanyaannya. sebagai seorang pengajar di bidang ilmu arsitektur dan bekerja juga sebagai arsitek (persambian), penggunaan kata ini cukup menggelitik untuk keingin-tahuan. kenapa perbankan indonesia ikut-ikutan menggunakan kata “arsitektur”?
jelas, terpampangnya tulisan AYO KE BANK sebagai tajuk spanduk dan ditulis dengan ukuran font yang besar, tersurat (terbaca) ada promosi dan ajakan besar-besaran ke masyarakat kelas manapun untuk mengelolakan duitnya di bank. jika persoalannya sebatas ini, tentunya tidaklah relevan perbankan perlu pakai istilah “arsitektur” segala, begitu dugaan semula. masalahnya sudah jamak, dari dulu sampai sekarang pun, fungsi dan peran bank itu ya seperti itu. dari masyarakat dan untuk masyarakat di dalam mengelola dan menyalurkan dana (duit), dan pihak pengelolanya mengenakan jasa bank (bunga). perbankan sendiri – kalau tak keliru - dalam kerangka fungsi yang lebih besar, adalah pengelolaan moneter negara. lalu .., di mananya perlu harus dikaitkan dengan kata “arsitektur”. barangkali, di balik ajakan tadi - sepertinya - ada perhelatan acara (program) perbankan indonesia yang lebih besar dari yang sekedar nampak tertera dan terbaca di spanduk. dan yang terbaca itu hanya kulitnya saja. ya.. maklumlah, kalau nggak begitu paham dengan persoalan “perbankan”.
ya .. karena masih penasaran .. dan .. jelas-jelas pengin tahu bener, bertanyalah akhirnya ke seseorang pejabat bank (bni) yang kebetulan teman. berharap dapat jawab yang bisa mengurai kusutnya kepenasaranan, justru malah ditanya balik (alias juga nggak paham). ”.. iya .. ya .. kenapa bank kok pakai istilah arsitektur ?”. karena masih kusut juga, akhirnya dengan bantuan search-enginenya yahoo, ketemu banyak tulisan yang sudah mempublikasi tentang ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA (API) ini.
dari web http://www.bi.go.id/web/id/Info+Penting/Arsitektur+Perbankan+Indonesia/faq.htm, terkuaklah asal usul penggunaan kata atau istilah “arsitektur” ini. di sana tertulis, istilah arsitektur keuangan dipergunakan juga oleh Bank for International Settlement (BIS) yang dapat dilihat di web site BIS. Sejak tahun 1998, BIS telah mengumandangkan pentingnya arsitektur keuangan global melalui berbagai pelaksanaan seminar dan publikasi tentang International Financial Architecture yang visinya adalah kestabilan sistim keuangan global. ternyata pula, API ini sudah meluncur sejak 9 januari 2004 (empat tahun lewat), melalui penerbitan buku putih pemerintah sesuai dengan inpres No. 5 tahun 2003, dan API menjadi salah satu program utama dalam buku putih tersebut.
dari halaman web di atas, API diunggulkan sebagai program lanjutan restrukturisasi perbankan yang telah digulirkan sejak 1998, setelah krisis ekonomi dan moneter pada 1997. dari halaman web http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=17907, ada pemahaman bahwa jika hanya program lanjutan, berarti program yang dibalut dengan nama API ini masih mirip-mirip juga dengan konsep yang lama (restrukturisasi permodalan). API hanya sebagai baju baru saja. jelas tergambarkan dalam konsepnya, bahwa ke depan (10 s/d 15 tahun sejak 2004), struktur perbankan indonesia dirancang menjadi 4 katagori, dan kecukupan/kelaikan modal menjadi prasyarat utama. kenapa modal? berikut jawabnya; “Program penguatan struktur permodalan perbankan (konvensional dan syariah) dimaksudkan dalam rangka meningkatkan kemampuan bank mengelola usaha maupun risiko bank, mengembangkan teknologi informasi, maupun meningkatkan skala usaha guna mendukung peningkatan kapasitas pertumbuhan kredit bank. Program penguatan permodalan dilaksanakan dalam jangka waktu masa transisi selama 5 sampai 7 tahun ke depan sehingga pada tahun 2011 bank-bank sudah memiliki modal minimum sesuai dengan ruang lingkup usaha maupun risikonya”.
jika disimak, visi maupun konsepnya memang bagus. namun masih juga muncul pro dan kontra. dan ini sudah jamak terjadi di negara kita tercinta. acapkali konsep dibuat tidak berdasar kondisi riil (aktual di lapangan), dan sering tidak dikaji secara mendalam. “Pengategorian dengan berbasis modal ini bisa mengebiri potensi bank kecil, namun sehat dan kuat, konsepsi API seperti ini terlalu mengebiri hak-hak bank kecil,” ungkap pengamat perbankan dari center for banking crisis (CBC) ahmad deni daruri dalam buku terbarunya quo vadis arsitektur perbankan Indonesia, yang terbit oktober 2007.
soal kepenasaranan akhirnya terobati setelah ketemu gambar bangun di samping. bisalah kemudian dimaklumi, kenapa perbankan indonesia menggunakan kata “arsitektur” ini. konsep API bertujuan untuk memperkuat “bangunan” ekonomi negara yang berkelanjutan. untuk membangun “sesuatu”, tahap paling awal memang perlu pondasi terlebih dahulu sebagai landasan. API mensyaratkan permodalan (kapital) sebagai unsur yang fundamental untuk topangan 6 pilar utama. konsepsi pilar ini menggambarkan keterlibatan 6 komponen sistem yang dikonsep perbankan dan harus bisa berdiri “tegak” (sistem perbankan yang sehat, sistem pengaturan yang efektif, sistem pengawasan yang independen dan efektif, industri perbankan yang kuat, infrastruktur pendukung yang mencukupi, dan perlindungan konsumen). dengan “tegaknya” komponen-komponen sistem ini - diharapkan - mampu menjalankan (menopang) visinya dengan baik (mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional). makanya, AYO KE BANK .. rame rame.
sepertinya .. , memaknai keniscayaan kata “arsitektur” perlu lebih arif, dalam ranah yang lebih kompleks. tidak sekedar meng-klaim bahwa sebutan “arsitektur” selalu berkonotasi lingkungan bianaan (fisik) manusia saja, apalagi hanya penggambaran fisik bangunan semata. relevansi sebutan “arsitektur” agaknya pas untuk menggambarkan suatu perjalanan panjang dari sebuah proses pelik untuk mencapai tujuan tertentu. ada input dan output sebagai harapan (goal). berbentuk kolaborasi (integrated) dari berbagai komponen yang - memang - dibutuhkan sesuai dengan tujuan outputnya. bersandar pada isu, butuh perencanaan (plan) dan perlu analisis yang cermat (studi kelayakan). berlanjut ke tahap rancangan (desain) dan permodelan, lalu operasional dan evaluasi (feedback). ringkasnya - kalau tak keliru -, “arsitektur” perlu dipahami sebagai “rancangan dan implementasi sebuah system yang terstruktur dan terorganisasi”. semoga begitu.
sekian dulu, kepareng ..
Tulis sebuah Komentar